Latest News

Menakar Kebahagiaan

Jika membicarakan makna bahagia, tentu saja akan banyak sekali faktor yang menjadi tolak ukurnya. Tolak ukur pun akan berbeda-beda pula antara satu individu dengan individu lainnya. Kebahagiaan ini menjadi hal yang paling diimpikan oleh setiap insan dalam kehidupannya. Mereka yang memiliki kebahagiaan biasanya akan terlihat hal-hal positif ada pada dirinya. Kesehatan, fisik bugar, tampak lebih muda, hingga aura baik pun terpancar dari dalam dirinya.

Mungkin orang akan mendapatkan kebahagiaan hanya dengan mendapatkan hutangan yang sedikit, namun ada pula orang yang belum bahagia, sekalipun mendapatkan hadiah nomplok berjuta-juta. Perbedaan dalam hal penyikapan tersebut pada akhirnya membuat kebahagiaan  menjadi tak mampu di ukur melalui angka matematis semata. Namun perlu diimbangi pula dengan kroscek berkala melalui serangkaian wawancara.

Saat ini negara paling bahagia menurut survey yang telah dilakukan oleh World happines Index (pikiran rakyat 22/06/2016) di tempati oleh negara Denmark. Sementara itu negara dengan presentasi paling tidak bahagia adalah Afghanistan. Entahlah mereka menggunakan metode bagaimana, namun hal tersebut tak mesti kita percayai dengan absolut.

Menakar kebahagiaan memang merupakan pekerjaan yang rumit untuk di lakukan. Untuk serangkaian tes wawancara sekalipun terkadang banyak para responden yang masih saja melakukan Facking good maupun Facking bad. Pada tahun 2015 lalu, manakala penulis berada dalam tim penelitian yang di gagas oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia bertajuk Survey Kesejahteraan Sosial Dasar (SKSD), mendapatkan pengalaman yang menarik terkait kebahagiaan ini.

Bayangkan saja gaji di atas 6juta, memiliki rumah besar, serta anak-anak yang telah sukses bekerja masih mengatakan kehidupannya tidak bahagia. Atau keluarga lainnya yang kondisi rumah sempit, atap bocor, penghasilan pas-pasan untuk makan namun mereka mengaku bahagia dengan kehidupannya.

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa, kebahagiaan memang sukar untuk di takar intensitasnya. Ia akan berbanding terbalik dengan data, atau bisa saja sebanding lurus dengan data. Menyikapi hal tersebut sudah selayaknya pemerintah dalam menetapkan kebijakan untuk langsung turun ke lapangan melihat kondisi yang ada. Jangan hanya melihat data untuk menetapkan sebuah kebijakan. Karena setiap kebijakan yang di keluarkan bertujuan untuk membuat bahagia masyarakatnya, akan lebih elok lagi pihak-pihak pemangku jabatan untuk melengkapinya dengan terjun langsung ke tengah masyarakat.

Menghindari pencitraan dengan mengundang media sewaktu bertugas tak sepatutnya di lestarikan. Karena pencitraan di depan media rawan terjadinya facking good para warga yang akan diwawancara di depan sang pemimpin. Karena hakikat loyalitas dan tanggung jawab terhadap apa yang ia pimpin, salah satunya adalah mampu memberikan takaran kebahagiaan para masyarakatnya secara benar, tanpa manipulasi pencitraan.

Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Goldmund. Diberdayakan oleh Blogger.