Latest News

Pelajaran Dari Sakit





Pagi ini badan terasa berbeda dari hari biasanya. Pagi ini ibarat atlit karate yang lagi bertanding, saya terkena chudan shuki plus maegeri jodan di kepala dan ulu hati, hingga badan tak kuasa untuk bangun dari empuknya pulau kapuk. ya pemberat itu bernama sakit.

Tentu diantara kita pernah merasakan yang namanya sakit. Sebenarnya sakit ini merupakan kasih sayang Allah yang diberikan kepada kita. Mengapa demikian? Ya jika anda tak dapat merasakan sakit, maka anda tak akan pernah merasakan cinta kasih dari orang orang di sekitar anda. Ketika anda sakit maka limpahan kasih sayang pun seakan tertuju pada diri kita. Mulai dari emmak, bapak, adik, kakak, hingga pendamping hidup pun tak kalah heboh semaksimal mungkin untuk memperhatikan kita. Dengan harapan agar kita cepat sembuh dan beraktivitas normal seperti biasanya.

Dalam sakit pun terkandung sebuah hikmah di dalamnya. Hikmah yang memang wajib di rasakan oleh anak manusia. Hikmah diberikannya rasa sakit ini seperti sebuah proposal untuk berhati-hati dalam bersikap dan tak sombong dalam kehidupan kita. Pelajaran untuk tak sekali kali merasa paling kuat di dunia ini, sehingga nantinya kita akan berpikir dua kali jika hendak berbuat aniaya kepada orang lain terutama berbuat aniaya terhadap diri sendiri.

Mungkin berbuat aniaya terhadap orang lain akibat kesombongan sangat nampak untuk di perhatikan. Namun apabila hal tersebut berbuat aniaya terhadap diri sendiri belum tentu nampak. Ibarat pribahasa, semut di sebrang kan nampak, namun gajah di pelupuk mata tak kan nampak. Pelajaran yang berharga ketika sakit saat ini adalah, tentang bagaimana kita diajarkan untuk peka terhadap suara rengekan daya tahan tubuh. Dan jangan sampai akibat kesombongan dan kecongkakan tersebut, kita merasa sakti untuk mendengar rengekan ini.

Dari sakit ini juga, kita di anjurkan untuk selalu peka dan tak terlalu gila dalam mengejar materi dunia hingga melupakan harta yang paling berharga dalam hidup, yaitu kesehatan. Karena apalah arti materi yang berlimpah namun kita tak mampu untuk menikmatinya. Apalah arti dari banyak harta benda kalo hanya untuk di buang lagi ke rumah sakit demi kesehatan kita.

Tak ada salahnya memang ketika kita semangat untuk mengejar harta dunia, dengan bekerja tak kenal lelah dan waktu. Seolah olah kita akan hidup selamanya di dunia ini. Namun kata tersebut juga harus di seimbangkan dengan kata istirahatlah yang saya semaknai dengan ibadah. Ya sebuah hadist yang mengatakan di lanjutan bekerja tersebut adalah ibadah. “beribadahlah seakan-akan anda mati esok hari”.

Dari sakit ini kita di ajarkan sebuah perenungan diri, tentang apa saja yang kita lakukan di dunia ini. Bisa jadi kita tak akan tau tentang, seberapa lama lagi kita masih eksis di dunia ini. Dunia yang fana seperti lirik lagu dari grup band legendaris indonesia good bless. Tetap perhatikan suara hati karena ibarat negara bercorak demokrasi, maka hati ini adalah ibarat rakyat. Dan suara rakyat adalah suara setinggi-tingginya suara konstitusi dan tatanan negara. Dan setinggi-tingginya suara rakyat dalam satu negara, tetap ada suara yang maha tinggi yaitu Suara Allah sang pencipta semesta alam.


Muhamad Fadho Tamimy 
Founder Lautan Psikologi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Goldmund. Diberdayakan oleh Blogger.