Hindari Bom Waktu Dalam Rumah Tanggamu - Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar

Latest News

Hindari Bom Waktu Dalam Rumah Tanggamu


Sepasang suami istri bertengkar saat malam hari. Masalah kecil saja sebenarnya. Esoknya, mereka hanya diam-diaman sebentar lalu melanjutkan aktivitas seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Pikir mereka, sudahlah lupakan aja. Daripada nanti ribut lagi mending gak usah dibahas lagi. Biar rumah damai. Maka, satu masalah yang sebenarnya belum selesai dibiarkan begitu saja. Satu bom ditanam tanpa disadari.

Di lain waktu, suami pulang larut malam tanpa memberikan kabar pada istri. Sang istri sebenarnya sangat ingin marah saat itu. Tapi ditahannya karena melihat suaminya pulang dalam keadaan mood yang tidak baik, lelah sepulang kerja. Ditahanlah rasa itu agar tidak terjadi perkelahian yang bisa membangunkan anak-anak mereka. Keesokan paginya berjalan seperti biasa. Istri pun menimbun rasa marahnya tadi malam. Lupakan sajalah. Biar rumah damai. Maka, satu masalah yang belum selesai kembali dibiarkan. Satu bom kembali ditanam.

Pada hari yang lain lagi, si istri sedang sangat kerepotan dengan anak-anaknya yang sedang rewel. Semuanya nangis, teriak-teriak. Ia kesal sekali melihat suaminya malah asik sekali nonton hape, tanpa ada inisiatif membantu sama sekali. Tapi lagi-lagi, kekesalan ini dipendamnya. Anak-anak aja sudah ribut, jangan ditambah lagi dengan ributnya orang tuanya yang bertengkar. Biarlah, biar rumah tangga damai. Lupakan aja. Maka, satuuu lagi tanpa sadar bom itu ia timbun.

Lalu datanglah hari itu, dimana pertengkaran besar terjadi lagi. Terlontarlah kata-kata dari suami bahwa istrinya egois dan tidak perhatian. Kata-kata ini menjadi pemicu. Tiba-tiba sang istri langsung teringat semua peristiwa tidak enak selama ini. Sakit sekali hatinya dibilang begitu. Maka meledaklah bom waktu yang selama ini ia timbun..

"Mas ini ya, siapa yang egois? Dulu gak mau bantu istrinya waktu anak berantem? Malah asik nonton hape. Terus siapa yang pulang malam tanpa ngabar-ngabarin dulu? Gak tau apa gimana khawatir nya istri di rumah?... "
Dan meluncurlah semua peristiwa "dulu-dulu" yang belum selesai.

Kagetlah sang suami. Ngapain bawa-bawa yang dulu-dulu padahal waktu itu aja istrinya gak protes. Padahal berantem yang dulu itu kan (dianggap) sudah damai, gak usahlah diungkit lagi. Suami makin gak mau kalah. Meledaklah semua malam itu. Dan silahkan bayangkan sendiri bagaimana akhirnya.

๐Ÿ’”๐Ÿ’”๐Ÿ’”

Dear, bagaimana tipe marahmu? Tipe yang langsung mengeluarkan semua yang dirasakan, atau tipe yang lebih baik diam? Bukankah cerita di atas sangat familiar dalam kehidupan sekitar kita? Semua masalah dibiarkan tanpa penyelesaian dengan dalih biar damai. Nanti juga lupa sendiri.

Padahal, jujur aja, perempuan itu susah buat ngelupain peristiwa yang melibatkan emosi seperti ini. Right? Mereka gak akan lupa, cuma ditimbun di alam bawah sadarnya. Bisa langsung teringat banget saat ada pemicunya.

Emosi ini bukan hanya emosi negatif seperti lagi marah tadi. Juga emosi bahagia misalnya peristiwa saat menikah dulu. Perempuan biasanya akan ingat dengan jelas suasananya bagaimana, dia pakai baju apa, gimana proses nya dia ingat dengan jelas. Apalagi kalau peristiwa dengan emosi negatif yang kuat misalnya lagi bertengkar hebat. Perempuan pasti inget banget detail tiap kata yang keluar, bahkan raut wajah suami saat itu, yang dimana suaminya aja biasanya lupa pernah begitu. Walaupun katanya sudah dimaafkan, tapi nyatanya gak akan bisa dilupain begitu aja. Forgiven but not forgotten.

Jadi dear, bagaimana pun tipe marahmu, pastikan untuk tidak menimbun bom waktu dalam rumah tangga yaa. Masalah atau uneg-uneg sekecil apa pun usahakanlah untuk bisa disampaikan pada pasangan (dengan cara yang baik tentunya), dan carilah solusinya bersama. Jangan dipendam sendiri, ditimbun terus-terusan dalam hati, dibiarkan tanpa penyelesaian. Kita gak pernah tahu kapan timbunan itu bertemu pemicunya dan DUAR! Meledaklah semua.

Membiarkan masalah menumpuk tanpa penyelesaian begini tidaklah sehat untuk mental maupun fisik. Kita jadi rawan stress, depresi, juga bisa berpengaruh pada asam lambung sehingga sering kambuh sakit maag nya. Dan saat timbunan bom waktu tadi meledak, efeknya tentu sangat berpengaruh pada keharmonisan rumah tangga kita. Jadi harap berhati-hati.


TENANG DULU, BARU BICARA

Melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai bom waktu dalam rumah tangga, apa inti yang bisa kita ambil? Yap, bahwa komunikasi antara pasangan suami istri itu sangat sangat penting. Marah dan pertengkaran itu sangat lumrah terjadi, tapi dapat menjadi bom waktu saat masalah tidak diselesaikan, tidak dikomunikasikan dengan baik. Maka, bicara untuk menyelesaikan masalah itu wajib hukumnya. Memendam sesuatu itu rasanya gak enak kan?

Kalau begitu, apa orang yang tipe marahnya suka ngeluarin semua yang dirasa itu lebih baik daripada yang lebih memilih diam? Tidak tentu yaa. Karena banyak juga yang tipe begitu saat marah pembahasannya jadi kemana-mana. Gak fokus pada masalah yang dihadapi, gak cari solusi. Yang penting lega bisa marah.

Yang terbaik adalah bicara saat semua sudah tenang. Tenang ya dear, tarik nafas dulu.. Karena saat sedang marah dan sama-sama emosi, biasanya kita jadi gak bisa berpikir jelas, gak bisa cari solusi yang terbaik. Susah untuk mendengarkan dengan baik. Bawaannya pengen ngejawaaab terus (walau cuma dalam hati). Jadi kita mendengarkan bukan buat memahami tapi buat membalas perkataannya. Makanya sering dibilang "mari kita selesaikan dengan kepala dingin" ya kan? Biar jernih sudah pikiran saat itu.

Tak perlu memaksakan untuk menyelesaikan masalah saat itu juga. Tak apa ditunda dulu agar kita bisa lebih tenang bicaranya. Kita bisa cari cara biar lebih tenang dulu misalnya dengan sholat, jalan-jalan keluar sebentar, atau ngemil Indomie dulu di pojokan. Tiap orang tentu punya cara sendiri menenangkan hatinya. Tapi jangan kelamaan ya, nanti malah lupa kalau ada masalah yang belum diselesaikan, bisa jadi bom waktu lagi ๐Ÿ˜….

Lebih baik lagi, buat kesepakatan dari awal dengan pasangan. Apa yang harus dilakukan saat kita berkonflik. Kalau saya dan suami, minimal ada 4 hal yang telah disepakati.

1. Saat aku marah (baik istri maupun suami), kamu harus apa?
Ini beda-beda ya tiap orang. Bagaimana kita ingin diperlakukan saat sedang marah. Kalau kami, saat pasangan marah, maka kita harus minta maaf walau belum tau salahnya apa. Pokoknya minta maaf dulu. Kasih pelukan dan biarkan dulu dengan diamnya sampai tenang sendiri.

Walau sebenarnya merasa gak salah, wajib diam dan mendengarkan pihak yang lagi nyampaikan uneg-uneg. Pembelaan diri bisa dilakukan saat waktu dan tempat dipersilahkan ๐Ÿ˜

2. Setelah marah reda, wajib diobrolkan apa masalahnya. Batas waktunya sampai 3 hari. Tapi kami selalu berusaha menyelesaikan paling lambat malam hari saat kejadian. Karena kita gak pernah tahu apakah setelah tidur hari ini masih bisa terbangun esok hari? Jangan sampai kita meninggal dalam keadaan tidak ridho atau tidak diridhoi oleh pasangan kita.

3. Jangan sampai curhat di medsos! Hehe. Ini penting karena menyangkut aib keluarga. Bukankah kita adalah pakaian yang saling menutupi? Curhat di medsos biasanya akan lebih memperunyam masalah.

4. Tidak berantem di depan anak.
Dengan adanya kesepakatan begini di awal, saat menghadapi konflik tentu akan terasa lebih mudah karena sudah sama-sama tahu harus bagaimana. Sekali lagi, cara kita marah dan ingin diperlakukan bagaimana saat marah tentu berbeda tiap orang. Tapi intinya, harus tetap ada komunikasi yang terbangun. Rumah tangga yang selalu nampak adem ayem karena menghindari masalah dengan pura-pura melupakan itu sebenarnya lebih berbahaya. Kita gak pernah tahu sudah berapa banyak bom waktu yang ditanam di baliknya. Dengan komunikasi yang tetap baik, maka pertengkaran yang ada akan tetap sehat dan meminimalisir adanya timbunan bom waktu tadi.

Karena konflik dan pertengkaran sudah pasti ada, maka pastikan saat kita bertengkar, pertengkaran kita adalah pertengkaran yang sehat yaa..

Loh, memang ada pertengkaran yang sehat dan gak sehat? ๐Ÿค”..
Adaaa, dan tetap adanya komunikasi yang baik ini adalah salah satu tanda pertengkaran kita masih sehat.

.
Penulis: Surayya Hayatus Sofia, S.Psi., M.Psi. Psikolog

http://bit.ly/2u9t2ot

Untuk dapat memiliki buku Manajamen Rumah Tangga Bahagia dapat melalui link berikut ini ---> http://bit.ly/2u9t2ot 

No comments:

Post a Comment

Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Goldmund. Powered by Blogger.