Alasan Memperbaiki Mindset Lebih Penting Dari Sekedar New Normal - Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar

Latest News

Alasan Memperbaiki Mindset Lebih Penting Dari Sekedar New Normal


Suatu hari seorang karyawan yang memiliki gaji 20 juta mengeluh lantaran perusahaan tempatnya bekerja memotong sebagian dari gajinya. Keadaan tersebut disebabkan karena perusahaan tempatnya bekerja mengalami kondisi terdampak covid-19 yang memang tengah menyebar di Indonesia. Adapun keluhan yang ia bagikan di media sosial lantaran gaji yang dimilikinya harus dipotong separo atau hanya menyisahkan 10 juta saja. Lebih lanjut ia pun merasa bahwa hal tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sebuah hal yang bagi sebagian orang mungkin saja dianggap sebagai sebuah perilaku kurang bersyukur, mengingat dengan separuh gajinya saja, jumlahnya bisa jadi merupakan pendapatan dari 10 orang bergaji UMR di beberapa daerah. Memang kondisi itu adalah suatu hal yang tak bisa diprediksi sebelumnya. Akan tetapi ada hal menarik untuk kita renungkan bersama dari kondisi seperti itu. Sebuah potret masyarakat kita yang unggul dalam hal konsumtifnya tanpa perencanaan matang di masa depannya.

Memang kondisi pandemic Corona (Covid-19) ini adalah kondisi yang terjadi tak hanya dialami oleh bangsa indonesia, namun juga negara lain di belahan dunia lainnya. Negeri Paman Sam yang lekat dengan superpowernya saja nyaris ambruk kondisi perekonomiannya.

Curhatan yang viral di media sosial tersebut sekaligus menjadi berita pengiring di tengah perubahan era normal baru atau istilah negtrendnya New Normal selain daripada berita Corona (Covid-19) itu sendiri. Menilik istilah new normal yang konon kabarnya merupakan sebuah kondisi pasca Corona menyebar yang membuat gaya hidup baru masyarakat dunia muncul. Sebuah gaya dalam menjalani kehidupan multidimensi antara sektor ekonomi, pendidikan, budaya dan sosial.

Percakapan new normal pun menyebar bak air hujan yang membasahi bumi. Dari setiap sudut percakapan pembahasan new normal dari segala sisi terjadi. Mulai dari gosip pesan grup WhatsApp sampai dengan guyon kantor waktu rehat jam kerja. Tak hanya kaum berdasi saja pembahasan new normal ini terjadi, bahkan selevel emak-emak yang tengah ngerumpi sembari mengawasi anaknya main kesana kemari pun juga terjadi.

Tak salah memang pembahasan ini dilakukan, namun dari sekian banyak sudut pandang pembahasan, ada satu hal yang luput dari perhatikan kita. Yaitu adalah perubahan maindset sekaligus perencanaan matang dalam menghadapi new normal itu sendiri. 

James Artur Ray seorang life coch dunia bahkan mengatakan bahwa mindset sangat mempengaruhi sikap seseorang dalam menghadapi suatu fenomena. Sedangkan perencanaan masa depan yang baik adalah kunci untuk menghadapi berbagai situasi sulit. Perpaduan dari perubahan maindset disertai dengan Perencanaan masa depan akan finansial, kesehatan, pendidikan, keluarga adalah senjata ampuh dalam menghadapi periode bumi gonjang-ganjing seperti saat ini. Seyogyanya resesi yang melanda dari masa kemasa negeri ini menjadi sebuah pembelajaran bahwasanya perekonomian negara tak selamanya bisa menjamin kehidupan masyarakatnya.

Langkah yang dapat membantu dalam pembangunan maindset adalah belajar dan mengamati. Era revolusi 4.0 yang telah berubah ke society 5.0 telah memunculkan banyak sekali inovasi dan kemudahan dalam mengakses berbagai macam informasi. Maka sangat disayangkan jika sebagian diantara kita hanya menggunakan teknologi untuk aktifitas pamer hedonism di media sosial saja. Bahkan tak sadar jika pamer di media sosial namun hutang kepada teman dan tetangga yang dimilikinya belum juga dibayarkan.

Disrupsi teknologi yang dahulu hanya menjadi komoditi pengetahuan, pada akhirnya ia menjadi suatu hal yang digunakan untuk diimplementasikan. Era old normal kini mulai tertutup dan perlahan berganti pada gerbang era normal baru atau yang lebih dikenal New normal. Sudah banyak yang merasakan ketidaksiapan dari disrupsi teknologi yang dibarengi dengan serangan pandemi. Satu persatu berbagai sektor bisnis berguguran, dan satu persatu pula PHK besar-besaran dilakukan.

Kini persaingan dalam mencari penghasilan tak lagi mengikuti pakem hukum bisnis yang besar melawan bisnis yang kecil. Akan tetapi saat ini hanya ada pakem yang cepat berubah akan berjaya dan yang terlambat berubah. Bagi yang cepat berubah dan beradaptasi ia akan menikmati akselarasi kesejahteraan yang sejati. Akan tetapi bagi mereka yang terlambat berubah menikmati zona nyaman akan tergulung penuh kenestapaan yang mengerikan.

Tentu apa yang terjadi saat ini telah menunjukan tanda-tandanya. IHSG yang acapkali dijadikan salah satu indicator kepercayaan ekonomi, mulai ambruk nilainya satu persatu. Imbasdaripada itu semua adalah keutuhan cas dari perusahaan itu sendiri.

Dan pada akhirnya kisah karyawan bergaji puluhan juta yang mengeluh di media sosial hingga menjadi viral adalah sebuah gambaran sekaligus pelajaran kita bersama. Sebuah pembelajaran untuk tidak sekali-kali mengabaikan pembangunan maindset dan perencanaan masa depan. Karena bangsa ini terlalu rapuh jika seluruh masyarakatnya hanya bergantung bantuan stimulant sedangkan negara masih harus memikirkan banyak pengeluaran ditengah sedikitnya pemasukan.


*
Buku Sharing Mu Personal Branding mu adalah buku yang mempermudah langkah anda dalam membentuk personal branding. Karena dengan personal branding yang baik, kita akan mampu untuk mengkapitalisasi segala peluang terkhusus di masa pandemi ini.

Tak terbatas dengan karir dan bisnis, namun buku ini juga dapat menuntut anda memposting apa saja yang baik, agar mampu menarik hati Wanita Atau Pria yang anda sukai sehingga ia menyukai anda dan pada akhirnya menjadi pendamping hidup anda.

Edisi khusus buku ini juga membuka beragam cara memahami kepribadian seseorang, sehingga anda akan terhindarkan dari para penipu online, atau menemukan orang-orang yang dapat diajak kerjasama sehingga dapat membantu anda meraih kekayaan.

Untuk pemesanan buku dapat langsung melalui Link berikut ini -> http://bit.ly/2u9t2ot

https://api.whatsapp.com/send?phone=6285332740678&text=Halo%20Admin%20saya%20mau%20order%20bukunya%20yaa%20:-)

No comments:

Post a Comment

Dunia Psikologi dan Fenomena Sekitar Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Goldmund. Powered by Blogger.